Rabu, 03 Desember 2014

Looking for A Way

Aku hanyalah potongan tulang rusuk, 
ada kalanya aku harus kembali bersatu dengan tubuh asal aku diciptakan
 bersatu untuk kembali utuh 
setelah sekian lama asik sendiri

love will find the way, if it's lost in the middle of the way, then it is not love baby.
aku memang tidak cantik ataupun populer, tp mungkinkah kamu melihatku degan keberadaanku?
benar-benar melihat aku dan mempertimbangkannya? 
maaf aku terlalu berharap, maaf khayalan ini begitu berani.
hari itu aku memutuskan untuk membua hati, hah membuka hati aku bilang ?
jika aku memang benar-benar siap membuka hati maka hari ini seharusnya aku tidak menghindar dari orang yang aku suka.
Hari ini sepertinya langit sedang menguji keaslian. Aku memulainya duluan (menghindar) dan feedback yang aku dapat 2x lipat dihindari. Good, so that was the progress ? good so it's going -20% to get closer!
why you're so mean? aku tidak bermaksud seperti itu, hanya belum mantap dengan keputusan hati
dan jika aku tidak berani menatap mata mu harusnya kau tau bahwa aku memang benar-benar suka.
Wah hari ini aku sungguh berani dalam hal menunjukkan perasaan, padahal biasanya aku akan sekuat mungkin bersikap biasa,tapi ini belum cukup, keberanian hari ini belum cukup untuk memulai apapun, keberanian hari ini belum cukup untuk menunjukkan apapun.Sudahlah, sepertinya trauma dalam hati ini sulit disembuhkan, butuh proses dan waktu untuk membiasakan diri terluka lagi.Butuh proses untuk terus bertahan dalam luka seperti yang duu. Hati sudah tidak setangguh yang dulu, jiwa muda yang penasaran akan segala hal dan merelakan hati untuk mencari pengalaman. Namun sekarang yang ada hanyalahjiwa dewasa  yang sudah belajar dari pengalaman dan lebih berhati-hati agar tidak terluka lagi, walau terkesan seperti pengecut.
 
somehow, 
someday,
 whatever its look,
 whatever its condition,
 ignore all badness and keep the goodness.



Sabtu, 29 November 2014

Panasnya mengajari arti teduh

Ucapkan satu maka aku akan terjatuh
Ucapkan dua maka aku akan mencari
Ucapkan tiga maka aku akan pergi
Berkibar saat kau lemparkan senyuman
Berhembus badai pesonamu
Merobohkan kokohnya pagar-pagar hati
Berjalan menelusuri rasa demi rasa
Berdiri, membungkuk lalu bersujud
Tersebut nama dalam doa,
Doa yang memaksa
Waktu menguji kekuatan palsu yang rapuh
Aku berdiri di tepi
Menunggu angin menghempaskan aku
Hembus aku kedalam maka aku akan terjatuh dan tenggelam dalam rasa mematikan
Hembus aku ke tepi maka aku akan terselamatkan
Dekatkan batu itu untuk aku berpegang kokoh
Batu keras yang rendah namun berat
Biar rendahnya membuat aku membungkuk untuk meraihnya
Membungkuk untuk terpaksa melihat kebawah
Melihat bayangan diri di air
Air yang tenang akan aku hancurkan agar kamu bergelombang
Bergelombang agar seirama
Seirama dengan hatiku yang tidak menentu
Ke bawah untuk melihat masa lalu
Waktu yang terbuang
Apakah sia-sia saat kau pernah dapat semangat karena nya
Membungkuk aku membasahi kedua tangan ini di bumi
Menambahkan genangan air itu dengan air yang menetes dari pipi
Melihat refleksi diri sembari terus mengisi
Mengisi genangan air itu agar penuh
Penuh dengan cerita kesedihan yang tiada berarti
Bangun bangunlah
Suara diri terus menjerit berteriak agar tersadarkan
Kemana mimpi
Jauh kau berkelana tapi tak dapat jua
Haruskah kubunuh harapannya
Kemana mimpi
Yang pernah membawa menuju indahnya dunia
Kemana mimpi
Yang kupikir mengajari arti hidup ini
Akhirnya aku menjalani hidup sunyi
Pergi berpaling dari mimpi yang pernah membawaku kesini
Ke tempat penuh kenangan ini
Aku akan pergi
Ucapkan selamat tinggal pada teriknya mentari
Panasnya mengajari arti teduh



Kosong

Dulu dunia begitu berwarna  hingga mereka bilang kamu gila, tapi sekarang semuanya normal.
Dulu aku bisa fokus kepada satu titik yang jauh samar-samar disana, tapi sekarang aku benar-benar bebas dan tidak tentu arah.
Dulu semua lagu cinta akan mengarah kepadanya, sekarang lagu-lagu itu manjadi bodoh di telingaku.
Dulu setiap adegan dalam film romantis itu mengingatkanku kepada dia, sekarang hanya terlihat sebagai adegan film kacang.
Dunia memang tidak semenarik dulu lagi, tapi sekarang jalan ke masa depan lebih terlihat jelas tanpa ada gangguan-gangguan yang menyita waktu, fokus dan pikiran.
Sekarang aku berjalan tanpa ragu, tidak ada pikiran tentang “Bagaimana orang akan menilaiku”
Sekarang aku berjalan dengan ‘jiwa yang bebas’ , berjalan tanpa rasa gengsi, tanpa rasa peduli.
Semua waktu terasa longgar, semua  berjalan lambat.
Aku bisa menjelajahi semua tempat tanpa harus menakutkan apapun, hidup sekarang benar-bear normal.
Kadang aku merindukan that abnormal , tapi waktu-waktu ini begitu nikmat untuk dinikmati.
Berpikir bahwa sangatjarang hal ini terjadi.
Semua harapan sirna, semua rasa sirna, semua perasaan entah kemana,
Hanya ada logika, berpikir dewasa , bermanfaat, efektif, efisien...
Semua berlalu dengan bagus, semua bagus, semua terlihat bagus.
Karena sekarang semua sudah jelas, semua terbongkar, tanpa harus menebak-nebak aku tau jawabannya dan aku sudah tau apa yang harus aku lakukan.
Aku suka kejujuran ini, aku menikmati setiap detik kejujuran ini.
Terimakasih ya Allah, terimakasih keadaan. Terimakasih sudah menunjukkan aku kenyataan yang sejujur-jujurnya walaupun sekarang semua berdampah menjadi hampa.
Aku bertapa menuju kebahagiaan yang lebih layak untuk aku,
Aku menunggu dengan sabar untuk kebahagiaan yang lain
Aku menghitung untuk menuju kesuksesan
Tunggu aku melepaskan semua belenggu perasaan ini
Tunggu aku menyusul mu netral
Tunggu aku tersenyum ramah tanpa rasa apapun
Begitu ringang setelah aku memutuskan untuk meninggalkan semua beban semu itu,
Bersihkan pikiran, bersihkan hari, jangan sampai menghantui kehidupanmu
Setiap waktu adalah usaha yang terus bertambah, setiap waktu adalah kemajuan, setiap waktu adalah rasa syukur.
Kosong ini membuatku lebih bersyukur
Kosong ini mendewasakan aku
Kosong ini membantuku melihat kenyataan
Kosong ini sudah membangunkan aku dari mimpi indahku
Kanvas hatiku tidak lagi terlalu berwarna seperti dulu, tetapi juga tidak hitam putih.
Hanya warna putih bersih yang siap untuk dilukis kembali,
Dilukis untuk entah kapan
Dilukis setelah aku benar-benar yakin
Dilukis setelah tidak ada rasa yang memperbudak
dilukis  setelah semua kejujuran meruncing
dilukis dengan hati-hati dan penuh senyuman
dilukis dengan penuh keyakinan tanpa ada rasa ragu sedikitpun!


fanatical blind you

A little talk about politics in my region, today I saw a political bigwigs give an opinion about his political opinion. Previously he was a politician neutral, long-minded and always puts the interests of the poor people. But today I saw him very differently, probably because he's too fanaticnya with 'senior political opposition'. Officials political opposition that I do not understand what he had said on the closest people so that he could change the basic thinking of persons like that. The political opposition leaders is someone who is very ambitious, he will do everything so they can win.
Hello people! Are you will still pretend not to see that he was slandering to drop his opponent? It was very obvious ones.
Will you still close your eyes with his words harsh? whether people are you want to person like that become an example for the country? Crime was seen clearly but you blinded your eyes! Is it because of you are so fanatical  until you neglect justice?

Fanatics are crazy word that will blind our thinking, well our eyes still see clearly what is really going on, but the mind is poisoned to always justify 'one side'.
 Fanatics are crazy word that would make wrong into right and right becomes wrong.

Fanatics are crazy words that would make a good will always look bad and bad will always look good.

Oh No! My Imagination runs wild

Berjalan ditengah keramaian Time Square New York yang super sibuk, mengenakan mantel buku yang cantik, syall merah yang lembut, sepatu boot hitam selutut dengan celana jeans panjang. Pergi untuk beberapa wawancara majalah terkenal yang mengangkat tema  tentang ‘wanita karir yang sukses’. Mengendalikan beberapa perusahaan besar dari handphoe yang selalu berdering. Membuat setiap pembicaraan di telepon menjadi dollar. Menghadiri beberapa peragaan busana untuk menjalin hubungan dengan rekan kerja.
Mengenakan gaun malam berwarna hitam dengan beberapa aksesoris pilihan dan sebuah cincin kawin di jari manis untuk menghadiri acara penggalangan dana untuk berbagi sekaligus bertemu kawan-kawan lama. Menggandeng seorang pengusaha sukses yang tampan dan sangat perhatian seperti pangeran di cerita-cerita Disney. Berjalan dengan anggun ditengah barisan wartawan yang sibuk mengambil gambar.
Memiliki anak-anak yang lucu, cerdas dan berhati besar. Tak pernah absen mengantar jemput mereka dari sekolah walaupun menjadi CEO di beberapa perusahaan. Mengajari mereka cara berbagi dengan orang-orang yang bernasib tak sebaik mereka, mengajari mereka untuk menolong sesama, mengajari mereka bahwa inti dari hidup adalah berbagi.
Tidak hanya memiliki tabungan untuk di dunia, tapi juga tabungan untuk kehidupan setelah mati. Mendirikan beberapa yayasan, rumah sakit amal dan sekolah-sekolah gratis untuk naka-anak tidak mampu.
Setiap akhir pekan menikmati waktu-waktu berharga bersama keluarga. Memasak bersama-sama dengan suami dan anak-anak, makan melingkar di meja makan sambil bercengkrama, bercanda dan tertawa terbahak-bahak.


Tidak ada salahnya untuk berkhayal bukan? Walau seringya hidup tak seindah apa yang kita bayangkan tapi aku siap menerima ujian sebelum kehidupan yang aku inginkan dapat tercapai, ya itu baru namanya semangat.

When my tab browser tell a tale

Mata ini berat tapi tak boleh tertutup. Pikiran ini lelah tapi harus tetap fokus. Ingin ku bakar layar laptop ini tapi harus tetap berada 25 cm di depa mataku. 1 jam berlalu dan hanya halaman pertama yang berisi cover makalah yang terus menatapku dari layar laptop. 25 tab browser tak satupun memberikan jawaban nyata, tak satupun artikel ku menngerti. Rasanya tab-tab browser itu terus memanggilku, “lihat aku, jawaban yang kamu cari ada disini.”
“Tidak jangan, aku lebih lengkap”.
“Aku saja, jawabanku yang paling tepat”.
Oooh.. benar-benar membuatku frustasi, belum lagi tab-tab browser yang masih loading, mereka seakan berteriak
“Tunggu aku, jawabanmu pasti ada di aku.”
“Jangan tutup sesiku, kamu akan menyesal, tunggu aku, jawabanmu akhirnya ada di sini.”
Dilain sisi tab-tab browser yang sudah terbuka tadi membalas teriakan mereka.
“Liat jam di laptopmu! kamu akan kehabisan waktu jika menunggu mereka, ambil saja jawabanku yang sudah tersedia atau pekerjaanmu tak akan selesai!”
Dan ketika akhirnya aku akan mengopy jawaban dari salah satu artikel tab browser tersebut, lembar kerja putih bersih pada Microsoft Wordku menyindirku.
“Silahkan saja paste jawaban itu dan siap-siap dapat nilai yang tidak sempurna karena kamu tau itu jawaban yang kurang tepat.”
Yaaa begitulah kisah frustasiku. Tapi tenang aku tidak akan sampai bunuh diri karena aku punya banyak teman yang senasib.


Red Shoes



Dengan sepatu merahnya dia berlari mengejar kucing yang lucu. Dengan kaki-kaki kecilnya dia berlari  sambil tertawa tak tentu arah. Hari ini dia sangat senang, dia mendapatkan teman baru untuk melangkah, menapaki jalan kehidupan yang baru ia kenal, ya sepatunya barunya. Sepatu kecil berwarna merah pekat yang sangat menarik hati siapapun yang melihatnya. Sepatu itu dulu milik kedua kakaknya, ya sepatu itu sudah cukup tua. Sang kakak pertama sebagai pemilik pertama sepatu itu, kini sudah bekerja. Sepatu merah itu adalah sepatu yang sangat beruntung, tak seperti sepatu lainya, dia hanya akan bisa menceritakan kisah-kisah membahagiakan. Sepatu itu hanya mendengar tawa bahagia dari sang pemilik, tawa masa kecil yang tanpa beban, tanpa dosa dan sangat indah untuk diingat. Saat sepatu itu tersandung dan jatuh, akan ada seseorang yang akan langsung berlari dengan penuh kekhawatiran dan akan segera menggendongnya menjauh dari pijakan bumi yang keras, mengangkatnya menuju pelukan nyaman, melindunginya dari kerasnya bumi yang menjatuhkannya, menenangkan dengan senyuman, dan tak akan menyerah sampai air mata itu berubah menjadi tawa.  Sepatu merah kecil itu tak pernah terbebani dengan kebidupan yang kejam ini, dia sealu melangkah tanapa beban, menikmati perjalanan dan tak perlu memikirkan kemana arah yang ia tuju. Berlari, lompat kesana-kemari, jungkir balik tanpa harus memikirkan resiko. Yaa seperti itulah kehidupan sepatu merah itu, sepatu yang paling bahagia di seluruh dunia.

Kebahagiaan Pemulung Kecil

Dia mungkin hanya 7 tahun, dengan rambut hitam yang sekarang sudah berubah menjadi samar-samar merah karena terbakar matajari. Dia memakai baju dan celana yang usang, memegang kain goni dan tongkat pengais. Kulitnya yang kecoklatan tertutup banyak debu dan polusi sehingga terlihat kotor.Dia berjalan melewatiku saat aku duduk di lorong bank menunggu seorang temanku. Dia melemparkan senyumannya yang sangat indah dan penuh ketulusan padaku, seketika hatiku teremas hebat, sungguh terasa perih melihatnya, lalu aku balas senyumannya hingga memperlihatnkan gigiku. Dia berjalan sambil meneliti cermat-cermat setiap tong sampah yang dia lewati. Kemudian terlihat seorang anak perempuan berseragam sekolah dan ibunya berjalan berpapasan dengannya, dterlihat dia menatap anak itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan lekat-lekat. Mungkin iri, melihat dunia yang seharunya jadi miliknya tapi tak teraih karena masalah ekonomi. Entah seperti apa masa depan yang akan dia miliki, membayangkan masa kecilnya yang sulit saja sudah sangat menyakitkan. Aku ingin menolong, setidaknya memberi nya sekedar uang yang aku miliki, tapi apa daya aku lupa membawa uang sepeser pun. 

Aku merasa bodoh dan tidak berguna karena mahasiswa yang mereka beri gelar generasi perubahan hanya bisa diam terpatung menatapi mereka-mereka yang bernasih tak sebaik kita. Lalu terlihat dari kejauhan seorang wanita muda dengan baju dan celana yang kusam memanggilnya dengan senyuman, anak itu berlari dengan riang menuju wanita itu, mungkin ibunya. Ya hanya ibunya yang bisa melukiskan senyum di kehidupan nya yang kelam, dia masih bisa tersenyum bahagia bersama sang ibu yang selalu menjaganya, dengan seorang ibu yang selalu memberikan senyuman penuh kebanggaan tak peduli bahgaimana orang-orang melihat mereka atau mencaci mereka. Sungguh sangat membahagiakan melihatnya berjalan bergandengan riang dengan ibunya. Kebahagiaan sederhana yang begitu besar dampaknya. Ibunya lah api yang menerangi dan menghangatkannya di tengah kegelapan yang dingin. Ibu adalah harta terindah kan? Ya seperti itulah. Dia berjalan pergi dari pandanganku, tetapi kesan dari pertemuan beberapa menit itu sungguh membuatku sadar akan posisi untuk dapat mengubah nasib mereka. Berjuanglah membawa perubahan untuk orang-orang yang tidak seberuntung kamu. Dan janganlah kamu terlalu bersedih dengan masalahmu, pemulung saja bisa bahagia hanya dengan memiliki seorang ibu, tanpa harta, tempat tinggal atau kemewahan sedikitpun, hanya perlu menemukan kebahagiaan sederhana yang akan selalu membahagiakanmu, siapapun atau apapun.


Senin, 04 Agustus 2014

quotes from movies