Sabtu, 29 November 2014

Kebahagiaan Pemulung Kecil

Dia mungkin hanya 7 tahun, dengan rambut hitam yang sekarang sudah berubah menjadi samar-samar merah karena terbakar matajari. Dia memakai baju dan celana yang usang, memegang kain goni dan tongkat pengais. Kulitnya yang kecoklatan tertutup banyak debu dan polusi sehingga terlihat kotor.Dia berjalan melewatiku saat aku duduk di lorong bank menunggu seorang temanku. Dia melemparkan senyumannya yang sangat indah dan penuh ketulusan padaku, seketika hatiku teremas hebat, sungguh terasa perih melihatnya, lalu aku balas senyumannya hingga memperlihatnkan gigiku. Dia berjalan sambil meneliti cermat-cermat setiap tong sampah yang dia lewati. Kemudian terlihat seorang anak perempuan berseragam sekolah dan ibunya berjalan berpapasan dengannya, dterlihat dia menatap anak itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan lekat-lekat. Mungkin iri, melihat dunia yang seharunya jadi miliknya tapi tak teraih karena masalah ekonomi. Entah seperti apa masa depan yang akan dia miliki, membayangkan masa kecilnya yang sulit saja sudah sangat menyakitkan. Aku ingin menolong, setidaknya memberi nya sekedar uang yang aku miliki, tapi apa daya aku lupa membawa uang sepeser pun. 

Aku merasa bodoh dan tidak berguna karena mahasiswa yang mereka beri gelar generasi perubahan hanya bisa diam terpatung menatapi mereka-mereka yang bernasih tak sebaik kita. Lalu terlihat dari kejauhan seorang wanita muda dengan baju dan celana yang kusam memanggilnya dengan senyuman, anak itu berlari dengan riang menuju wanita itu, mungkin ibunya. Ya hanya ibunya yang bisa melukiskan senyum di kehidupan nya yang kelam, dia masih bisa tersenyum bahagia bersama sang ibu yang selalu menjaganya, dengan seorang ibu yang selalu memberikan senyuman penuh kebanggaan tak peduli bahgaimana orang-orang melihat mereka atau mencaci mereka. Sungguh sangat membahagiakan melihatnya berjalan bergandengan riang dengan ibunya. Kebahagiaan sederhana yang begitu besar dampaknya. Ibunya lah api yang menerangi dan menghangatkannya di tengah kegelapan yang dingin. Ibu adalah harta terindah kan? Ya seperti itulah. Dia berjalan pergi dari pandanganku, tetapi kesan dari pertemuan beberapa menit itu sungguh membuatku sadar akan posisi untuk dapat mengubah nasib mereka. Berjuanglah membawa perubahan untuk orang-orang yang tidak seberuntung kamu. Dan janganlah kamu terlalu bersedih dengan masalahmu, pemulung saja bisa bahagia hanya dengan memiliki seorang ibu, tanpa harta, tempat tinggal atau kemewahan sedikitpun, hanya perlu menemukan kebahagiaan sederhana yang akan selalu membahagiakanmu, siapapun atau apapun.


0 komentar:

Posting Komentar