Dia mungkin hanya 7
tahun, dengan rambut hitam yang sekarang sudah berubah menjadi samar-samar
merah karena terbakar matajari. Dia memakai baju dan celana yang usang,
memegang kain goni dan tongkat pengais. Kulitnya yang kecoklatan tertutup
banyak debu dan polusi sehingga terlihat kotor.Dia berjalan melewatiku saat aku
duduk di lorong bank menunggu seorang temanku. Dia melemparkan senyumannya yang
sangat indah dan penuh ketulusan padaku, seketika hatiku teremas hebat, sungguh
terasa perih melihatnya, lalu aku balas senyumannya hingga memperlihatnkan
gigiku.
Dia berjalan sambil
meneliti cermat-cermat setiap tong sampah yang dia lewati. Kemudian terlihat seorang anak
perempuan berseragam sekolah dan ibunya berjalan berpapasan dengannya, dterlihat dia menatap anak itu
dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan lekat-lekat. Mungkin iri, melihat dunia yang
seharunya jadi miliknya tapi tak teraih karena masalah ekonomi. Entah seperti apa masa depan
yang akan dia miliki, membayangkan masa kecilnya yang sulit saja sudah sangat
menyakitkan. Aku ingin menolong, setidaknya memberi nya sekedar uang
yang aku miliki, tapi apa daya aku lupa membawa uang sepeser pun.
Aku merasa
bodoh dan tidak berguna karena mahasiswa yang mereka beri gelar generasi
perubahan hanya bisa diam terpatung menatapi mereka-mereka yang bernasih tak
sebaik kita. Lalu terlihat dari kejauhan seorang wanita muda dengan baju dan
celana yang kusam memanggilnya dengan senyuman, anak itu berlari dengan riang
menuju wanita itu, mungkin ibunya. Ya hanya ibunya yang bisa melukiskan senyum
di kehidupan nya yang kelam, dia masih bisa tersenyum bahagia bersama sang ibu
yang selalu menjaganya, dengan seorang ibu yang selalu memberikan senyuman
penuh kebanggaan tak peduli bahgaimana orang-orang melihat mereka atau mencaci
mereka. Sungguh sangat membahagiakan melihatnya berjalan bergandengan riang
dengan ibunya. Kebahagiaan sederhana yang begitu besar dampaknya. Ibunya lah
api yang menerangi dan menghangatkannya di tengah kegelapan yang dingin. Ibu
adalah harta terindah kan? Ya seperti itulah. Dia berjalan pergi dari
pandanganku, tetapi kesan dari pertemuan beberapa menit itu sungguh membuatku
sadar akan posisi untuk dapat mengubah nasib mereka. Berjuanglah membawa
perubahan untuk orang-orang yang tidak seberuntung kamu. Dan janganlah kamu
terlalu bersedih dengan masalahmu, pemulung saja bisa bahagia hanya dengan
memiliki seorang ibu, tanpa harta, tempat tinggal atau kemewahan sedikitpun,
hanya perlu menemukan kebahagiaan sederhana yang akan selalu membahagiakanmu,
siapapun atau apapun.






0 komentar:
Posting Komentar